Showing posts with label Komedi/Komedi Romantis. Show all posts
Showing posts with label Komedi/Komedi Romantis. Show all posts

The Green Hornet, Pahlawan yang Manja

Adalah berlebihan untuk mengharapkan inspirasi dalam The Green Hornet. Tak ada apapun di sini kecuali strategi dan konsep pemasaran serta merchandising yang bagus. Tak ada ide-ide segar yang muncul. Skenarionya ditulis Seth Rogen dan Evan Goldberg berdasarkan acara radio zaman dulu. Walaupun kita merasa mereka sudah berusaha keras, hasilnya adalah cerita yang berantakan, lemah secara konsep, dan tidak ada interest yang mengakar walaupun banyak dialog yang menyegarkan.

Sutradara Michel Gondry seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa membuat film bagus dengan materi cerita yang kurang bagus. Tak banyak yang bisa dia lakukan kecuali mengusahakan yang terbaik dengan materi pas-pasan dengan cara mengoptimalkan

Grown Ups, Mereka yang Tidak Pernah Dewasa

Walaupun berjudul Grown Ups, film yang ditulis Adam Sandler ini tidaklah menampilkan cerita tentang kedewasaan sama sekali. Hal ini tidaklah mengherankan karena Sandler memang lekat dengan image seperti itu. Dia mungkin sudah 43 tahun dan punya anak tetapi masih mempertahankan jenis humor kekanak-kanakan yang membuatnya terkenal di akhir 90an (Happy Gilmore, Billy Madison, The Waterboy).

Humor-humor yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang baru, malah cenderung antik. Sandler mungkin menganggap jokes tentang buang gas dan orang gemuk masih tetap lucu tetapi lelucon semacam itu sudah terlalu sering kita lihat dan cenderung membosankan. Pemeran lainnya (Chris Rock, David Spade, dan Rob Schneider) menampilkan jokes antara teman yang mungkin sulit diikuti orang lain di luar mereka.

The Back Up Plan, Komedi Romantis yang Textbook.

The Back Up Plan benar-benar mengikuti kaidah komedi romantis. Seorang pria bertemu wanita di taksi yang mereka tumpangi. Si wanita awalnya menolak si pria yang lama-lama bisa melelehkan hati si wanita. Mereka lalu berciuman lembut, berbagi lelucon dan seks, lalu tinggal bersama. Sebuah kesalahan yang memisahkan mereka terjadi dan konflik pun mencapai klimaksnya.

Selain mengikuti kaidah di atas, film ini juga melibatkan sebuah kehamilan yang terjadi lewat cara yang tidak biasa. Jennifer Lopez bermain sebagai Zoe, pemilik toko binatang peliharaan berumur 30an yang sudah menyerah dalam hal cinta. Dia

Little Fockers, Tontonan Keluarga yang Menyegarkan

10 tahun setelah film pertama, Greg Focker (Ben Stiller) tampaknya mulai bisa diterima oleh sang mertua galak yang ex CIA Jack (Robert de Niro). Dalam Little Fockers, si kembar Henry (Colin Baiocchi) dan Sam (Daisy Tahan) menjelang usia 5 tahun. Greg dan Pam (Teri Polo) merencanakan pesta ulang tahun meriah. Secara diam-diam, Jack khawatir akan kesehatan jantungnya dan - walaupun merahasiakannya dari sang istri Dina (Blythe Danner) - menceritakannya pada Greg, yang berusaha membuktikan kapasitasnya sebagai kepala keluarga. Keadaan semakin meriah dengan kehadiran penjual obat disfungsi ereksi (Jessica Alba), mantan pacar Pam, Kevin (Owen Wilson), dan orangtua Greg (Dustin Hoffman dan Barbra Streisand).

Gulliver's Travel, Reduksi Sastra Klasik

Walaupun berjudul sama, Gulliver's Travel tidaklah identik dengan novel sastra klasik dari abad ke-18 tulisan Jonathan Swift. Kesamaannya hanya pada para liliput dan selebihnya film ini adalah kendaraan humor bagi Jack Black.

Karakter Lemuel Gulliver (Black) adalah seorang tukang bagi surat di sebuah koran. Dia menyimpan rasa suka kepada editor Darcy (Amanda Peet) tetapi tidak berani mengajak Darcy kencan. Malahan, Gulliver berbohong bahwa dia bisa menulis

(500) Days of Summer, Romantic Comedy yang Segar

Seperti yang dilakukan oleh film Annie Hall beberapa waktu yang lalu, (500) Days of Summer dengan sangat baik menangkap sensibilitas dari sebuah romansa kontemporer. Rasanya sulit untuk membayangkan romantic comedy yang lebih menyenangkan, lebih jenaka, lebih baik dari segi akting, dan lebih inventif ketimbang film ini.

Yang membedakan (500) Days of Summer dari romantic comedy lainnya adalah kemampuannya untuk secara halus mengejek kebiasaan yang ada dan cerita menyentuh yang disajikan dengan sebuah cara yang inovatif dan menyejukkan bagai

Due Date, Panggung Downey, Jr Dan Galifianakis

Walaupun berjudul Due Date, film ini lebih banyak bercerita tentang chemistry antar pemerannya, bukannya tenggat waktu. Ikatan bersifat sentimen dan rasa "sebal" antara Robert Downey, Jr tegang dan Zach Galifianakis yang ceroboh membuat film ini bagaikan sebuah tim sepakbola yang selalu menang. Jika bukan  karena daya tarik komikal dari Downey dan Galifianakis, Due Date hanya akan menjadi pengulangan film-film komedi bertema road trip lainnya.

The Kids Are All Right, Kisah Keluarga Lesbian

Dalam The Kids Are All Right, sebuah film bagus garapan Lisa Cholodenko, anak-anak terlihat lebih dewasa dan bijaksana ketimbang orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap mereka. Cholodenko dengan sangat anggun menjalin kejujuran yang blak-blakan dalam sebuah dongeng keluarga modern yang berusaha bertahan menghadapi sebuah perubahan.

Annete Bening dan Julianne Moore memerankan Nic dan Jules, sepasang lesbian yang membesarkan 2 anak remaja bernama Laser yang berusia 15 tahun (Josh Hutcherson) dan Joni (Mia Wasikowska) yang sudah 18 tahun. Ketenangan keluarga ini mulai terganggu ketika Laser dan Joni ingin mencari pria yang merupakan ayah biologis mereka. Sebagai informasi, Nic dan Jules donor sperma untuk hamil dan masing-masing melahirkan satu anak. Paul (Mark Ruffalo), seorang pengusaha restoran organik yang kharismatik dan bergaya hippie, ternyata merupakan sang pendonor sperma.

The Bounty Hunter, Gagal Mengundang Tawa

Sebenarnya, siapakah yang punya ide tentang sepasang mantan suami istri saling menghantam secara verbal bisa menjadi tontonan yang menyenangkan? Tetapi, itulah cerita yang kita dapatkan dalam The Bounty Hunter - ditambah dengan komedi romantis yang lesu dan sederetan cast yang memerankan karakter-karakter lemah.

Gerard Butler dan Jennifer Aniston terlibat dalam pertengkaran sebagai mantan suami istri. Secara fisik, mereka memang cocok dan serasi tetapi kita tidak pernah merasakan apa yang mempersatukan (atau memisahkan) mereka. Atau juga apa yang mereka lihat satu sama lain. Ini membuat kita tidak peduli apakah mereka akan bersatu lagi atau tidak.

Little Miss Sunshine, Komedi Yang Unik

Walaupun bukan produksi baru, Resensi Film Bagus tetap menampilkan Little Miss Shunshine semata-mata karena film ini punya karakter kuat dengan mengambil sudut pandang yang unik. Little Miss Sunshine dibuka dengan sepasang mata biru milik seorang gadis kecil yang seolah-olah menatap kita. Tetapi dia tidak melakukan itu. Sang gadis kecil sedang menonton TV yang menyiarkan acara penobatan pemenang kontes kecantikan. Gadis kecil itu larut dalam momen ini, seolah-olah dialah yang memenangi kontes tersebut. Saat itu juga kita tahu bahwa Litlle Miss Sunshine bercerita tentang mimpi dan ilusi.

Beberapa hari kemudian, setelah perjalanan panjang bersama keluarganya dengan menaiki mobil VW antik, impian sang gadis untuk tampil dalam kontes kecantikan semakin mendekati kenyataan. Mereka mendekati hotel tempat penyelenggaraan kontes tetapi  mereka  gagal

Cop Out, Not Wanted

Cop Out penuh dengan kata-kata makian kotor tetapi tidak lucu, penuh dengan peluru tetapi tidak menarik, dan tidak ada chemistry antara dua orang pemeran utama. Kekurangan-kekurangan ini terutama disebabkan oleh kualitas skenario yang ditulis 2 bersaudara Robb dan Mark Cullen. Penyutradaraannya juga tidak fokus serta membutuhkan proses editing yang ketat.

Piranha, Ketegangan Di Tengah Danau Victoria

Piranha tidak akan dikenang sebagai sebuah film yang pantas mendapatkan penghargaan, tetapi jika anda mencari sebuah film yang bisa menceriakan akhir pekan anda maka ini adalah pilihan yang bagus. Piranha 3D adalah film yang bermandikan darah dengan sajian perempuan-perempuan seksi yang akan membuat pria manapun membelalakkan matanya. Tapi jika anda tidak tahan terhadap darah dan adegan yang agak menjijikkan, maka tontonlah film animasi atau komedi romantis (sudah jelas, kan?).

Life As We Know It, Martir Dalam Komedi Romantis

Katherine Heigl dan Josh Duhamel berhasil menampilkan chemistry yang memikat, tetapi Life As We Know It tersandung dalam hal cerita yang secara canggung memadukan skenario sitkom yang familiar dengan sebuah tragedi kematian. Membuat sebuah cerita komedi romantis berdasarkan tragedi memang memerlukan sebuah kelihaian tersendiri. Jika saja film ini ditangani oleh sutradara yang lebih baik mungkin hasilnya akan lain. Cerita yang ditulis oleh Ian Deitchman dan Kristin Rusk Robinson hanya menyajikan tawa yang sudah bisa ditebak sebelumnya.

Duhamel berperan sebagai Messer, seorang penakluk wanita yang tampan dan bersahabat dengan Peter (Hayes MacArthur), yang menikah dengan Alison (Christina Hendricks). Heigl berperan sebagai Holly, sahabat Alison yang selalu tegang dan ambisius.

Greenberg, Pameran Karakter Ala Stiller

Greenberg adalah sebuah film tentang meraih sebuah kehidupan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya dan pastinya tidak akan menarik perhatian para penggemar film action. Tetapi jika anda mencari sebuah film yang realistis dengan karakter kuat penuh emosi, maka Resensi Film Bagus merekomendasikan Greenberg.

Sutradara Noah Baumbach meramu sebuah skrip yang bersifat perseptif akan kepingan-kepingan hidup seseorang berdasarkan cerita yang dia susun bersama istrinya, aktris Jennifer Jason Leigh.

Going the Distance, Bukan Komedi Romantis yang Bagus

"What really matters is what you like, not what you're like," ujar John Cussack dalam High Fidelity, sebuah komedi romantis yang bagus tentang seorang pria 30an yang tidak bisa menjaga hubungan, sebagian karena dia mempunyai mimpi-mimpi yang aneh. Going the Distance adalah komedi romantis yang biasa-biasa saja tentang pria yang kurang lebih sama. Garret (Justin Long), seorang staf A&R yang frustrasi di perusahaan rekaman New York jatuh cinta pda Erin (Drew Barrymore), perempuan 31 tahun yang magang di sebuah surat kabar. Setelah bersama selama 6

Toy Story 3, Masterpiece dari Pixar

Resensi Film Bagus selalu merasa takjub pada para seniman animasi di Pixar yang selalu bisa muncul dengan cerita-cerita yang bagus dan inovatif. Hal ini bisa dibilang sebagai kejaaiban dalam film modern saat ini. Kali ini Pixar mencapai prestasi yang luar biasa dalam Toy Story 3. Sutradara Lee Unkrich dan para penulis skenario (John Lasseter, Andrew Stanton, dan Michael Arndt) berhasil menghadirkan sebuah plot yang segar dan memikat.

Cloudy With A Chance of Meatballs

Di luar dugaan Resensi Film Bagus, Cloudy With A Chance of Meatballs ternyata menyuguhkan sajian film animasi yang gurih walaupun tidak sama benar dengan buku aslinya yang terbit tahun 1978. Para penggemar buku aslinya akan menemukan perbedaan saat menonton film ini tetapi mereka juga tidak akan kecewa. Cerita di film ini lebih luas dibanding versi bukunya yang memang jauh lebih sederhana. Pilihan untuk memperluas cerita bisa dimengerti karena versi aslinya memang terlalu singkat untuk dijadikan film bioskop berdurasi panjang.

The Other Guys

Kesalahan fatal yang dibuat oleh Terry Hoitz (Mark Wahlberg) di masa lalu saat bertugas (dia menembak Derek Jeter, seorang bintang baseball) dan keengganan Allan Gamble (Will Ferrel) untuk bertugas di lapangan membuat keduanya harus menerima nasib menjadi The Other Guys (orang biasa atau pecundang) di kepolisian New York. Kepolisian New York yang malu lalu menugaskan merka untuk melakukan pekerjaan adminstrasi bagi dua orang polisi hebat, Danson (Dwayne "The Rock" Johnson) dan Highsmith (Samuel L. Jackson).