Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Contoh Resensi Film Laskar Pelangi, Sebuah Keberanian Berbuah Manis

review film laskar pelangi
Laskar Pelangi adalah sebuah adaptasi dari fenomena sastra berjudul sama tulisan Andrea Hirata. Dengan ekspetasi tinggi dari penggemar novelnya dan sekumpulan pemain ternama yang menyesaki film ini, Laskar Pelangi sudah menjadi hit sejak pertama dibuat.

Film ini berlokasi di Belitong, Sumatera dan dibuka dengan tokoh Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang kembali ke tanah kelahirannya setelah merantau. Dia lalu flash back ke masa kecilnya dulu sewaktu masih SD di SD Muhammdiyah yang sederhana dengan 2 guru yang bersahaja, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara)

5 tahun berlalu dan film bercerita tentang anggota Laskar Pelangi yang sudah kelas 5, melalui sudut pandang Ikal kecil (Zulfani). Selain Ikal, ada juga tokoh Lintang (Ferdian) yang amat jenius dan Mahar (Verrys Yamarno) yang menunjukkan bakat seni luar biasa. Tokoh-tokoh yang lain adalah Akiong, Harun, Sahara, dan Kucai.

Keputusan penting sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana yang memilih anak-anak asli Belitong sebagai pemain ternyata tepat. Mereka bisa menyelami karakter masing-masing walaupun tidak punya pengalaman akting sebelumnya. Memang, Riri dan Mira terkenal akan kemampuannya mengorbitkan bakat-bakat baru seperti yang terjadi pada Rachel Maryam.

Zulfani dan Ferdian menunjukkan penampilan yang luar biasa sebagai orang baru dalam dunia akting tanpa pengalaman. Kepolosan mereka terasa sangat natural, berbeda dengan bintang-bintang cilik lain yang sering mondar-mandir di layar TV kita. Anda pasti tanpa sadar tersenyum saat menyaksikan kisah cinta Ikal dengan seorang gadis Tionghoa yang ditemuinya di pasar, menunjukkan betapa naturalnya penampilan dia.

Inti dari film ini, secara emosional, sebenarnya Lintang.

Penonton langsung jatuh cinta sejak kemunculan pertama Ikal di layar. Sebagai anak termiskin dari sebuah komunitas miskin, gayanya yang terengah-engah menggenjot sepeda yang terlalu besar untuknya adalah sebuah scene tak terlupakan.

Sementara aktor veteran Ikranagara, memberikan penampilan memukai sebagai Pak Harfan. Dia sukses membawakan karakter guru senior yang bersemangat, baik hati, dan sanggup mengambil hati anak-anak asuhannya.

Skenarionya agak berbeda dibanding cerita di novel dengan penambahan beberapa karakter guru yang tidak dituliskan oleh Andrea. Sebuah hal yang wajar, tentu saja.

Memang ini film lawas keluaran 2008. Tapi tidak ada ruginya menonton Laskar Pelangi berkali-kali karena film ini memang "beda" dan berani melawan arus utama sinema Indonesia. Kami saja tertarik menulis resensinya sekarang.

Useful Link:
Jual Tas Laptop Ransel 

The Grey, Teror dan Keindahan

Hidup dan mati duduk berdampingan dalam kisah tentang survival di tengah alam liar yang beku, di mana auman serigala ganas menggema di seluruh tempat. Dengan mengambil gambar di tengah alam liar British Columbia, The Grey mengambil setting keras dan dingin yang menjadi kunci dalam menghadirkan suasana bertahan hidup di alam liar.

Setting yang ada dengan sendirinya menghadirkan nuansa yang memang diinginkan oleh film besutan Joe Carnahan ini, tak ada yang berkilauan di sini. Penampilan kuat dari Liam Neeson menjadi fokus sentral yang pasti menarik perhatian penonton. Dia adalah kompas kita saat kita mencoba menikmati teror yang ada, isolasi, konflik, harapan, dan berbagai halangan untuk bertahan hidup.

The Artist, Sebuah Kebisuan yang Mempesona

Dalam banyak hal, The Artist adalah sebuah pencapaian prestasi. Sebuah film bisu produksi zaman sekarang yang, saking sempurna penggarapannya, bisa saja dianggap sebagai sebuah film klasik betulan produksi tahun 20-an. Segala teknik yang digunakan dalam produksi The Artist (pencahayaan, pengaturan bayangan, pengaturan warna hitam dan putih) menunjukkan sebuah keseriusan yang didasari pada study mendetail tentang film klasik zaman baheula.

Selain masalah teknis, The Artist mempunyai jiwa sebuah film bisu. Film ini mempunyai momen-momen yang sangat khas dalam sebuah film klasik. Sebut saja kesetiaan dan kerinduan yang divisualisasikan dengan sangat baik. Sutradara Michel Hazanavicius dan para aktornya sukses menyuguhkan gesture yang terarah, murni, tanpa harus terjebak dalam sebuah kekonyolan gerak.

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 , Finale yang Memuaskan Fans

Pertempuran antara kekuatan baik dan jahat berkembang menjadi perang habis-habisan saat Harry Potter (Daniel Radcliffe) meneruskan usahanya untuk mencari Horcrux yang merupakan kunci untuk mengalahkan Voldemort (Ralph Fiennes). Bersama Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson), Harry menemukan legenda Deathly Hallows.

Bab terakhir serial Harry Potter, sekali lagi, menonjolkan efek yang kaya dan padat sehingga agak mengalahkan narasinya. Mereka yang belum membaca novelnya mungkin agak kebingungan mengikuti cerita film ini walaupun terlihat jelas bahwa film ini memang "diperuntukkan" bagi para fans fanatik Harry Potte yang pasti sudah hafal dengan segala lekuk liku cerita ini sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.

Breach, Spy Thriller yang Memukau

Breach disutradarai oleh Billy Ray, yang juga menulis Flightplan dan menyutradarai Shattered Glass. Diangkat dari kisah nyata tentang penerobosan intelijen paling hebat dalam sejarah Amerika, film ini melacak peristiwa-peristiwa yang mengarah ke penahanan agen FBI yang berdedikasi dan bereputasi bagus, Robert Hanssen (Chris Cooper). Hanssen melakukan pengkhianatan kepada negaranya dengan menjual rahasia negara kepada Uni Soviet.

The Fighter, Pertarungan dalam Sebuah Keluarga

The Fighter menyuguhkan hiburan yang bagus dari awal sampai akhir dan memuat 2 penampilan brilian yang bisa dianggap salah satu yang terbaik sepanjang 2010. Lingkungan kelas pekerja di Lowell, Massachusetts, diwujudkan secara detil, dan Mark Wahlberg, sebagai petinju kelas welter Micky Ward (tokoh ini memang benar-benar ada), menjadi pusat simpati penonton. Rasanya, semua yang menonton The Fighter akan berpendapat bahwa ini adalah film yang berkualitas.

Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.

The Way Back, Sebuah Perjalanan Panjang Nan Sulit

The Way Back, dengan cerita epik dan setting yang spektakuler, mau tidak mau mengundang perbandingan dengan Lawrence of Arabia dan Dr. Zhivago. Semuanya dipenuhi medan lokasi yang berat.

The Way Back memang mempunyai setting yang bagus, tapi tidak demikian halnya dalam hal substansi. Tanpa harus dibandingkan dengan film-film klasik tadi, film ini memiliki kekurangan dalam hal perkembangan karakter.

Season of the Witch, Kisah dari Abad Pertengahan

Nicholas Cage memperpanjang rentang peran yang dimainkannya dengan bermain dalam Season of The Witch, gabungan antara horror dan sejarah yang tidak terlalu jelek tetapi juga tidak bisa dibilang memikat. Peran yang agak "aneh" seperti ini bukanlah sebuah masalah bagi Cage yang tetap bisa tampil bagus dalam peran apapun. Tetapi dia dan co-star Ron Perlman terlalu pintar, terlalu tajam, dan terlalu kontemporer untuk berperan sebagai swordsmen di era 1300an. Walaupun punya twist yang bagus, film ini pada akhirnya lebih mirip dengan film yang bercerita tentang polisi yang berteman (buddy-cop movie).

Cage berperan sebagai Behmen, pendekar jagoan yang juga pemeluk Kristen taat. Dia ditugaskan dengan rekannya Felson (Perlman), sebuah tugas yang membuat

New Town Killers, Perburuan Manusia yang Seru

New Town Killers bercerita tentang orang kaya yang punya kegemaran aneh sebagai seorang sosiopath: berburu manusia sebagai sebuah kesenangan belaka. Memang, plot cerita seperti ini tidaklah orisinal tetapi tetap bisa disajikan sebagai sebuah film yang cukup bagus. Itulah yang dilakukan oleh sutradara Richard Jobson.

Alistair (Dougray Scott) adalah seorang bankir yang powerful dan kaya raya. Dia mengisi waktu luangnya dengan berburu manusia (ya, manusia. bukan binatang). Untuk melakukannya, dia membujuk para remaja miskin agar ikut bermain dengan

The Girl Who Kicked the Hornet's Nest, Penutup Sebuah Trilogi

The Girl who Kicked the Hornet's Nest adalah film ketiga dari trilogi garapan penulis swedia Stieg Larsson. Film ini bukanlah yang terbaik dalam trilogi ini (yang terbaik tentu saja film pertama, The Girl With the Dragon Tattoo) tetapi tetap menantang. Dibutuhkan kesabaran, ketabahan, dan kemampuan untuk mengikuti jalan cerita dengan bermacam karakter dalam subplot yang rumit.

Terakhir kita melihat Lisbeth Salander (Noomi Rapace) dalam film kedua, The Girl Who Played with Fire, dia tergantung di kepalanya, terkubur hidup2 dan bertahan untuk membunuh ayahnya dengan kapak, semua terjadi di tengah pengejaran dirinya

The Tourist, Lebih Baik Tinggal di Rumah

Dalam beberapa level, The Tourist terlihat seperti film yang datang dari jagad yang berbeda. Pertama, film ini mungkin menjadi satu-satunya film yang menyuguhkan penampilan buruk dari salah satu aktor terbaik di industri film, Johnny Depp. Siapa sangka dia bisa tampil kaku dan tidak meyakinkan? Angelina Jolie mungkin lebih buruk lagi. Ekspresinya hanya itu-itu saja. Plot ceritanya berlubang di banyak tempat dan sulit dipercaya. Yang lebih sulit dipahami adalah kenyataan bahwa film ini disutradarai oleh Florian Henckel von Donnersmarck yang memenangi Oscar 2006 lewat film berbahasa Jerman, The Lives of Others. Kombinasinya dengan Depp dan Jolie seharusnya menghasilkan film yang bagus.

The American, Clooney yang Tetap Mempesona

The American adalah sebuah film yang sangat mungkin membuat fans George Clooney bergembira. Itu karena film ini adalah sebuah one man show yang banyak menampilkan Clooney secara close up dan adegan berganti baju. Clooney memang bertambah tua tetapi dia tetap menjaga tubuhnya agar terlihat bagus di layar.

Clooney berperan sebagai Jack/Edward, seorang pembunuh bayaran. Film dibuka dengan sang pembunuh yang mencoba membuka hidup baru di Swedia, sampai musuhnya datang dan memburunya. Dia lalu pindah ke Italia dan menetap di sebuah

Faster, Film Milik The Rock

Faster bukanlah jenis film yang membuat anda mengernyitkan dahi. Ceritanya familiar dan mudah ditebak, tetapi kehadiran Dwayne "The Rock" Johnson membuat film ini cukup menarik. Karakter-karakter di film ini bisa dibaca dari peran mereka. Johnson adalah Driver, seseorang yang baru dibebaskan setelah 10 tahun dipenjara karena perampokan bank yang gagal - sebuah perampokan yang juga merenggut nyawa saudaranya. Setelah bebas, Driver mulai menuntut balas atas kematian saudaranya itu.

Johnson selalu watchable dan merupakan sosok pahlawan action sejati karena sosoknya yang kekar menjulang. Dia punya kharisma yang membuat penonton

Buried, Ketakutan Terbesar Manusia

Buried bukanlah film yang tepat jika anda mencari film ringan bersifat eskapis semata. Tetapi jika anda tertarik pada film yang dibuat dengan gigih dan tidak biasa, maka film yang bercerita tentang orang yang terkurung di peti mati ini adalah pilihan yang tepat.
Ryan Reynolds menyuguhkan penampilan impresif bermain solo dan berada dalam posisi yang tidak mengenakkan. "Membawa" sebuah film sendirian adalah tantangan yang berat bagi seorang aktor. Lebih sulit lagi jika sang aktor, secara literal, hanya mendapat ruang yang amat terbatas. Juga sangat tidak mudah bagi seorang aktor untuk selalu disorot secara close-up sepanjang film. Reynolds mampu melakukan itu semua dengan sempurna.

The Next Three Days, Action atau Bukan?

The Next Three Days adalah sebuah drama yang bersinggungan dengan konsep action-thriller. Seorang pria biasa, John Brennan (Russel Crowe) sangat frustrasi saat istrinya, Lara Brennan (Elizabeth Banks) dituduh melakukan pembunuhan yang tidak pernah dia lakukan. John lalu memutuskan untuk membebaskan sang istri dari penjara. Plot seperti ini sebenarnya merupakan resep dari film laga yang menghibur, memuaska, dan memacu adrenalin.

The Girl Who Played with Fire, Sekuel yang Tetap Memikat

The Girl Who Played with Fire bermula dengan Mikael Blomqvist (Mikael Nyqvist ) akan menerbitkan sebuah cerita mengejutkan karya seorang penulis lepas tentang perdagangan wanita yang melibatkan banyak nama terkenal. Malam sebelum penerbitan, sang penulis bersama pacarmya ditemukan tewas terbunuh. Lalu, pembunuhan berikutnya terjadi dan semua petunjuk mengarah kepada Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Mikael yakin Losbeth tidak bersalah dan mulai melakukan penyelidikan. Dia mendapati masa lalu Lisbeth yang mengejutkan.

The Disappearance of Alice Creed , Sindiran Inggris Untuk Hollywood

The Disappearance of Alice Creed menyuguhkan adegan pembuka yang rapi dan menceritakan hampir semuanya tentang film ini. Dengan efisien, 2 pria menyiapkan sebuah penculikan. Mereka menaruh alas tidur di sebuah van. Memasang lapisan karet di dinding kamar. Membaut pintu dan tempat tidur. Lalu, mereka berpakaian seperti polisi dan menggotong seorang perempuan ke dalam van tadi. Mereka membawanya ke dalam kamar. Mengikatnya ke tempat tidur. Melolosi bajunya. Memotretnya dalam keadaan telanjang, memakaikan bajunya lagi, lalu menyelipkan bantal di bawah kepala si perempuan. Kemudian, 2 pria ini pergi.

Bright Star, Cinta Dan Puisi

Lebih mudah dikagumi daripada menyentuh secara emosional, Bright Star secara tegas merayakan kegembiraan akan puisi. Mereka yang menyukai keindahan bahasa dan kata-kata puitis akan menikmati dialog film ini, selain juga kemegahan visual yang ada. Dengan shots yang luar biasa dan penggarapan yang terampil. Bright Star adalah sebuah keindahan. Walaupun film ini tidak sungguh-sungguh berhasil menyajikan sebuah romansa.

Potret sebuah kisah cinta gagal antara penyair Inggris awal abad ke-19 John Keats (Ben Whisaw) dan gadis penggemar fashion Fanny Brawne (Abbie Cornish)

The Haunting Lovers, Horor Yang Romantis

The Haunting Lovers menjadi ajang bagi Vaness Wu untuk menjajal aktingya di film horor dan kembali bekerja sama dengan sutradara Ken Yip. Dengan sentuhan romantis, Wu terlibat cinta segitiga dengan Xiaolu Li dan Kago Ai. Juga bermain Law Lan yang sudah sangat familiar dalam film-film horor.

Dengan latar belakang Guangzhou tahun 40-an, Wu berperan sebagai Leung Kwong, seorang anak muda yang tertindas dan berusaha mencari kerja untuk bisa menikahi kekasihnya Hsiao Chen (Kago Ai). Semua terlihat baik-baik saja saat Kwong mendapat kerja di sebuah pabrik obat lokal, sampai Kwong menyadari bahwa dia diterima karena amat mirip dengan anak pemilik pabrik. Sang anak sendiri sudah 10 tahunan menghilang.

The Kids Are All Right, Kisah Keluarga Lesbian

Dalam The Kids Are All Right, sebuah film bagus garapan Lisa Cholodenko, anak-anak terlihat lebih dewasa dan bijaksana ketimbang orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap mereka. Cholodenko dengan sangat anggun menjalin kejujuran yang blak-blakan dalam sebuah dongeng keluarga modern yang berusaha bertahan menghadapi sebuah perubahan.

Annete Bening dan Julianne Moore memerankan Nic dan Jules, sepasang lesbian yang membesarkan 2 anak remaja bernama Laser yang berusia 15 tahun (Josh Hutcherson) dan Joni (Mia Wasikowska) yang sudah 18 tahun. Ketenangan keluarga ini mulai terganggu ketika Laser dan Joni ingin mencari pria yang merupakan ayah biologis mereka. Sebagai informasi, Nic dan Jules donor sperma untuk hamil dan masing-masing melahirkan satu anak. Paul (Mark Ruffalo), seorang pengusaha restoran organik yang kharismatik dan bergaya hippie, ternyata merupakan sang pendonor sperma.