Bagaimana pendapat Anda jika Resensi Film Bagus menjual kaos bertema film yang bisa diorder satuan?

Resensi Film Bagus adalah sebuah blog yang memuat resensi film dari berbagai genre sebagai panduan bagi para moviegoers Indonesia. Silakan kopas asal mencantumkan link ke blog ini.
Moviegoers, Resensi Film Bagus berencana meluncurkan produk berupa kaos bertema film. Gimana tanggapan moviegoers tentang ini? Silakan respon dengan comment di resensi yang mana saja. Salam nonton...!!!!!

The Grey, Teror dan Keindahan

Hidup dan mati duduk berdampingan dalam kisah tentang survival di tengah alam liar yang beku, di mana auman serigala ganas menggema di seluruh tempat. Dengan mengambil gambar di tengah alam liar British Columbia, The Grey mengambil setting keras dan dingin yang menjadi kunci dalam menghadirkan suasana bertahan hidup di alam liar.

Setting yang ada dengan sendirinya menghadirkan nuansa yang memang diinginkan oleh film besutan Joe Carnahan ini, tak ada yang berkilauan di sini. Penampilan kuat dari Liam Neeson menjadi fokus sentral yang pasti menarik perhatian penonton. Dia adalah kompas kita saat kita mencoba menikmati teror yang ada, isolasi, konflik, harapan, dan berbagai halangan untuk bertahan hidup.

The Artist, Sebuah Kebisuan yang Mempesona

Dalam banyak hal, The Artist adalah sebuah pencapaian prestasi. Sebuah film bisu produksi zaman sekarang yang, saking sempurna penggarapannya, bisa saja dianggap sebagai sebuah film klasik betulan produksi tahun 20-an. Segala teknik yang digunakan dalam produksi The Artist (pencahayaan, pengaturan bayangan, pengaturan warna hitam dan putih) menunjukkan sebuah keseriusan yang didasari pada study mendetail tentang film klasik zaman baheula.

Selain masalah teknis, The Artist mempunyai jiwa sebuah film bisu. Film ini mempunyai momen-momen yang sangat khas dalam sebuah film klasik. Sebut saja kesetiaan dan kerinduan yang divisualisasikan dengan sangat baik. Sutradara Michel Hazanavicius dan para aktornya sukses menyuguhkan gesture yang terarah, murni, tanpa harus terjebak dalam sebuah kekonyolan gerak.

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 , Finale yang Memuaskan Fans

Pertempuran antara kekuatan baik dan jahat berkembang menjadi perang habis-habisan saat Harry Potter (Daniel Radcliffe) meneruskan usahanya untuk mencari Horcrux yang merupakan kunci untuk mengalahkan Voldemort (Ralph Fiennes). Bersama Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson), Harry menemukan legenda Deathly Hallows.

Bab terakhir serial Harry Potter, sekali lagi, menonjolkan efek yang kaya dan padat sehingga agak mengalahkan narasinya. Mereka yang belum membaca novelnya mungkin agak kebingungan mengikuti cerita film ini walaupun terlihat jelas bahwa film ini memang "diperuntukkan" bagi para fans fanatik Harry Potte yang pasti sudah hafal dengan segala lekuk liku cerita ini sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.

Breach, Spy Thriller yang Memukau

Breach disutradarai oleh Billy Ray, yang juga menulis Flightplan dan menyutradarai Shattered Glass. Diangkat dari kisah nyata tentang penerobosan intelijen paling hebat dalam sejarah Amerika, film ini melacak peristiwa-peristiwa yang mengarah ke penahanan agen FBI yang berdedikasi dan bereputasi bagus, Robert Hanssen (Chris Cooper). Hanssen melakukan pengkhianatan kepada negaranya dengan menjual rahasia negara kepada Uni Soviet.

The Fighter, Pertarungan dalam Sebuah Keluarga

The Fighter menyuguhkan hiburan yang bagus dari awal sampai akhir dan memuat 2 penampilan brilian yang bisa dianggap salah satu yang terbaik sepanjang 2010. Lingkungan kelas pekerja di Lowell, Massachusetts, diwujudkan secara detil, dan Mark Wahlberg, sebagai petinju kelas welter Micky Ward (tokoh ini memang benar-benar ada), menjadi pusat simpati penonton. Rasanya, semua yang menonton The Fighter akan berpendapat bahwa ini adalah film yang berkualitas.

Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.

The Green Hornet, Pahlawan yang Manja

Adalah berlebihan untuk mengharapkan inspirasi dalam The Green Hornet. Tak ada apapun di sini kecuali strategi dan konsep pemasaran serta merchandising yang bagus. Tak ada ide-ide segar yang muncul. Skenarionya ditulis Seth Rogen dan Evan Goldberg berdasarkan acara radio zaman dulu. Walaupun kita merasa mereka sudah berusaha keras, hasilnya adalah cerita yang berantakan, lemah secara konsep, dan tidak ada interest yang mengakar walaupun banyak dialog yang menyegarkan.

Sutradara Michel Gondry seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa membuat film bagus dengan materi cerita yang kurang bagus. Tak banyak yang bisa dia lakukan kecuali mengusahakan yang terbaik dengan materi pas-pasan dengan cara mengoptimalkan

Grown Ups, Mereka yang Tidak Pernah Dewasa

Walaupun berjudul Grown Ups, film yang ditulis Adam Sandler ini tidaklah menampilkan cerita tentang kedewasaan sama sekali. Hal ini tidaklah mengherankan karena Sandler memang lekat dengan image seperti itu. Dia mungkin sudah 43 tahun dan punya anak tetapi masih mempertahankan jenis humor kekanak-kanakan yang membuatnya terkenal di akhir 90an (Happy Gilmore, Billy Madison, The Waterboy).

Humor-humor yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang baru, malah cenderung antik. Sandler mungkin menganggap jokes tentang buang gas dan orang gemuk masih tetap lucu tetapi lelucon semacam itu sudah terlalu sering kita lihat dan cenderung membosankan. Pemeran lainnya (Chris Rock, David Spade, dan Rob Schneider) menampilkan jokes antara teman yang mungkin sulit diikuti orang lain di luar mereka.
 
Copyright 2009 Resensi Film Bagus. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan